Statement of PPIP and SPPJB on PT PLN (Persero)’s Subholding Formation

Persatuan Pegawai PT Indonesia Power (PPIP) represented by its chairperson, Dwi Hantoro Sutomo, and the secretary, Andy Wijaya, and the Serikat Pekerja PT Pembangkitan Jawa-Bali (SPPJB) represented by Agus Wibawa, the chairperson, and Ide Bagus Hapsara, the general secretary, gave a statement related to the launching of PLN (Persero)’s subholding formation on September 21, 2022

The news said that the Ministry of State-Owned Companies (BUMN) has officially established the Holding dor PLN (Persero)’s subholding. This corporate action resulted in the consolidation of PLN’s generation assets to be into two Subholding Generation Companies (Genco) i.e. PLN Indonesia Power (Genco 1) and PLN Nusantara Power (Genco 2).

This corporate act has caused the consolidation of PLN’s generation assets. PT PLN Indonesia Power which was known as Indonesia Power will manage 20.6 GW generation facilities. This subhodling will be the biggest electricity generation company in SouthEast Asia.

Previously, the President Director of PLN, Darmawan Prasodjo, said that the restructurization is a strategic step to adapt to future changes. Moreover, he added, the company’s target is 22.9 GW of generation facilities up to 2025.

To accelerate the transition to clean energy, PLN Indonesia Power as a generation subholding company will have subsidiaries. A subsidiary will focus on Geothermal (Geothermal Co) with capacity of 0.6 GW and a renewable energy generator, such as solar generator, wind, or hydro – generator (New Energy Co) with capacity of 3.8 GW).

In the video, the Union (Serikat Pekerja PT Pembangkitan Jawa Bali and Persatuan Pegawai PT Indonesia Power) responding the formation of PT PLN (Persero) Subholding stated the following:

First, the formation of Geothermal Co. and New Energy Co. each of which the subsidiary of PT PLN Indonesia Power and PT PLN Nusantara Power shows that the Sate no longer control the sectors of production which are important for the country. It is also inconstitutional by violating the Constitutional Court decision No. 111/PUU-XIII/2015 and No. 61/PUU-XVIII/2020.

Sectors of production which are important for the country and affect the life of the people shall be under the powers of the State.

Second, the formation of Geothermal Co. and Energy Co. is the a form of government’s authority abuse to PT PLN (Persero) under the pretext of energy transition.

Third, Persatuan Pegawai PT Indonesia Power (PPIP) and Serikat Pekerja PT. Pembangkitan Jawa Bali SP PJB have sent two letters to the majority shareholders i.e. PT PLN (Persero) President Director, to question the formation of Goethermal Co. and New Energy Co.. However, up to this date, there has not any good will at all and allegedly it is the violation of article 126 of Perseroan Law.

Fourth, asset transfer from PT PLN (Persero), a State-Owned Enterprise, to new entities whose share are now owned by the State (Geothermal Co. and New Energy Co.) can be considered as hidden privatization.

Based on the above points, the following is our statement:

  1. We reject the establishement of PT PLN (persero) Subholding, especially the joint-subsidiaries, i.e. Geothermal Co and New Energy Co.. This is a form removal of State’s control over national electricty/energy sector.
  2. We request PT PLN (Persero) to take over the role and resposibility directly in the transition process to new and renewable without having to transfer the assets to other business entities by creating subholding (the Geothermal Co. and Energy Co).
  3. We request to the majority shareholder of PT Indonesia Power and PT Pembangkitan Jawa Bali to comply with and obey the article 26 of Law on Limited Company (Perseroan Terbatas) during the process of subholding formation of PT PLN (Persero)

Video Statement: https://videopress.com/v/DDhhEPo2

Thank you,

PPIP Chairperson, Dwi Hantoro Sutomo: 0812-8643-9018
SPPJB Chairperson, Agus Wibawa: 0896-8750-0696
PPIP General Secretary Andy Wijaya: 0813-1115-1305
SPPJB General Secretary, Ide Bagus Hapsara: 0857-3102-0947

Pernyataan Sikap PPIP dan SPPJB Menolak Pembentukan Subholding PT PLN (Persero)

Persatuan Pegawai PT Indonesia Power (PPIP) dengan Ketua Dwi Hantoro Sutomo dan Sekretaris Andy Wijaya serta Serikat Pekerja PT Pembangkitan Jawa-Bali (SPPJB) dengan Ketua Agus Wibawa dan Sekjen Ide Bagus Hapsara memberikan pernyataan sehubungan dengan launching pembentukan subholding PT. PLN (persero) pada tanggal 21 september 2022.

Diberitakan, Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) meresmikan pembentukan Holding Subholding PT PLN (Persero). Aksi korporasi ini  membuat seluruh aset pembangkitan PLN terkonsolidasi dalam dua Subholding Generation Company (Genco) yaitu PLN Indonesia Power (Genco 1) dan PLN Nusantara Power (Genco 2).

Aksi korporasi ini membuat seluruh aset pembangkitan PLN terkonsolidasi. PT PLN Indonesia Power yang sebelumnya dikenal lewat brand Indonesia Power akan mengelola pembangkit dengan kapasitas 20,6 GW. Subholding ini akan menjadi perusahaan pembangkit listrik berkapasitas terbesar di Asia Tenggara. 

Sebelumnya, Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo menyampaikan, restrukturisasi ini merupakan langkah strategis guna bisa beradaptasi dengan perubahan ke depan. Terlebih, imbuhnya, perusahaan memiliki target pengoperasian pembangkit hingga 22,9 GW pada 2025.

Untuk mempercepat transisi energi bersih, PLN Indonesia Power sebagai subholding pembangkitan bersama PLN Nusantara Power juga akan memiliki anak usaha bersama yang fokus pada pembangkit panas bumi (Geothermal Co) berkapasitas 0,6 GW dan pembangkit energi baru terbarukan, seperti tenaga surya, tenaga angin dan tenaga hidro (New Energy Co) berkapasitas 3,8 GW.

Berdasarkan video pernyataan sikap Serikat Pekerja PT. Pembangkitan Jawa Bali dan Persatuan Pegawai PT. Indonesia Power ketika menanggapi pembentukan subholding PT PLN (Persero), disampaikan beberapa hal sebagai berikut:

Pertama, pembentukan geothermal.co dan new energy.co yang merupakan anak perusahaan bersama PT. PLN Indonesia Power dan PT. PLN Nusantara Power adalah contoh nyata hilangnya penguasaan negara dan bentuk pelanggaran konstitusi yaitu melanggar putusan MK No. 111/PUU-XIII/2015 dan putusan MK No. 61/PUU-XVIII/2020.

Kedua, pembentukan geothermal.co dan new energy.co adalah bentuk penyelewengan tugas pemerintah kepada PT. PLN (persero) dalam pemenuhan transisi energi.

Ketiga, Persatuan Pegawai PT. Indonesia Power dan Serikat Pekerja PT. Pembangkitan Jawa Bali telah membuat surat sebanyak 2 kali kepada pemegang saham mayoritas dalam hal ini adalah dirut pt. Pln (persero) mempertanyakan pembentukan geothermal.co dan new energy.co dan sampai saat ini belum ada itikad baik sama sekali dan hal itu diduga pelanggaran terhadap pasal 126 uu perseroan terbatas.

Keempat, hibah aset-aset BUMN dalam hal ini PT. PLN (persero) kepada entitas baru yang sahamnya tidak dimiliki oleh negara (geothermal.co dan new energy.co) dan selanjutnya bila dijual, patut diduga sebagai bentuk baru privatisasi terselubung.

Berdasarkan poin-poin tersebut di atas, dengan ini kami menyatakan sikap sebagai berikut:

  1. Menolak pembentukan subholding PT. PLN (Persero) bila di dalamnya masih terdapat struktur anak perusahaan bersama, yaitu geothermal.co dan new energy.co karena menyebabkan hilangnya penguasaan negara pada sektor ketenagalistrikan nasional.
  • Meminta PT. PLN (Persero) untuk mengambil peran dan tanggung jawab secara langsung pada transisi energi baru dan terbarukan tanpa mengalihkan kepada entitas di bawah subholding (geothermal.co dan new energy.co).
  • Meminta pemegang saham mayoritas PT. Indonesia Power dan PT. Pembangkitan Jawa Bali untuk tunduk dan patuh pada pasal 126 UU Perseroan Terbatas pada proses pembentukan subholding PT. PLN (Persero).

Terima Kasih

Ketua Umum PPIP, Dwi Hantoro Sutomo: 0812-8643-9018
Ketua Umum SPPJB, Agus Wibawa: 0896-8750-0696
Sekretaris PPIP Andy Wijaya: 0813-1115-1305
Sekjen SPPJB, Ide Bagus Hapsara: 0857-3102-0947

SP PDAM Jakarta: Termination of Cooperation with a Private Operators must not Harm the Workers and Customers

“We do this with a hope, we don’t want to complain but we want to fight.” The sentence was written on a banner in the room where SP PDAM held its consolidation on Friday (9/9). The sentence was to remind all participants that a change can not be made without doing anything. A change must be fought.

The consolidation was special. It was held to consolidate the power and discourse to face the end of cooperation between PDAM and a private company on January 31, 2023. Fifty participants attended the consolidation meeting. The partipants were members of the union, representations from regional coordinators and leaders of SP PDAM Jakarta.

“When the cooperation started, about 4000 workers were assigned by PAM to ‘help’ the partner company. Now, out of 4000 workers, there are only 260 workers left. Therefore, at the end of this cooperation, we demand the company to see us and not overlook us,” said the chairperson of SP PDAM Jakarta, Abdul Somad, in his opening remark.

The cooperation between PAM Jakarta and the private company started in 1997. A year later, in 1998, the massive demonstration that led to reformation occurred. Workers, at that time, rejected the cooperation between both companies. The Consitution of 1945 was the foundation. The Constitution prohibits private companies to manage water which is a public good.

The struggle was finally succeeded. In 2017, the Constitutional Court stopped water privatization and return the management of water to the government of DKI Jakarta Province. However, in 2018, unfortunately, the Review of Court Decision (PK= Peninjauan Kembali) had different decision. Nevetheless, the whole process shows that trade unions are not just fighting for the interest of workers only, but also fight for our constitutional rights by rejecting water privatization.

Abdul Somad said that SP PDAM Jakarta has been fighting to ensure that workers receive their rightful rights. When the union saw unfair rangking and position, union would request re-assessment. And it worked. The non-promoted workers then got promoted.

In 2018, there were three workers who got terminated from their work. SP PDAM also advocated for their rights. Finally, the three workers got their rights to their retired day.

“We also highlighted discriminations. PAM Jaya workers received welfare benefits, while us who work in the partner coampany did not. We should have received the same benefit as them,” asserted Abdul Somad.

Member representatives and leaders participants of the consolidation meeting agreed on one thing: that at the end of this cooperation between PAM Jaya and the private company, the discrimination must also end. It is like the ones who used to work at the private company are finally coming home on early 2023. Therefore, there should be no more discrimination. The company also must give a reward as we have succeeded in doing our jobs as envoys who were assigned to work in the private company.

As said before, the cooperation started in 1998 and 4000 workers were assigned to work in the partner company. Now, there are only 260 workers left. They are the dedicated and loyal wokers. They did receive some reward, but incomparable to the reward received by the workers who stayed at PAM Jaya.

The consolidation also agreed to improve the solidarity and unity of the members. They have to show their morale militancy. That is the fuel of unions to fight.

“In the future, our struggle will be harder. The director board have changed 13 times, but workers stay workers,” Abdul Somad asserted. Therefore, in the process of termination of cooperation must not harm the workers. Workers must be involved in the process.

In the same occasion, the Chairman of the Legal Advisory Board, Anton Sihotang, SH., said that unions will be stronger when it gets the support from the members. However, if members only wait for the result, the union will not grow stronger.

“It’s us who can change our fate. Nobody else can,” he added.

Anton hoped that when the cooperation ends the condition will be better. It is our job to fight together ensuring the company to prioritize and respect its workers and also ensure that water service will be better and stay in the public hands.

Organized: the best way to fight against the violence and harassment at the workplace

“One of our strength to fight against violence and harassment at the workplace is by organizing ourselves in the union. By joining the union, we can sit equally with and have more strength to push the company to agree on the regulation related to women protection in the CBA,” Izzah Inzamliyah in her opening remark. She was the trainer of Training for Trainers for women leaders and activists under the theme of “ILO Convention 190 on Elimination of Violence and Harassment at the Workplace” organized by The Public Services  International (PSI) held in 5G Resort Cijeruk, Bogor, 29-31 August 2022.

Izzah continued by saying that when the CBA contains women’s protection, it will minimize gender-based violence. In turn, it will change the mindset of workers and employers, that every person has the right of a world free of violence and harassment.

Talking about violence and harassment, women are the most vulnerable object of violence in under employement relation. Women are considered to be weak creature, abide to, and dependent upon superiors or men.

“Women’s fear and weakness are the cause of violence in the employment relation. Therefore it is just right for women workers to be active in the unions. By joining the union, workers have the strength to fight against the violence and harassment at the workplace,” Izzah asserted the importance of organized workers in front of 20 women workers , the participants of the ToT. The participants came from SP PLN, SP PPIP, SP PJB, SP EE, dan SPICON+.

Indah Budiarti, the PSI Communications and Project Coordinator, added that this training is also about introduction to use the ILO Convention 190 toolkit. The toolkit is translated into Bahasa Indonesia by IndustriAll Indonesi project office so that it would be easier for participants and unions to design their own activities.

“PSI together with trade unions globally promote the ratification of this convention,” asserted Indah.

She hoped that with this training will be beneficial and encourage the campaign on local and national level. She also hped that the action plan produced in the training wold stimulate the participants and their unions to take a step to push the campaign for Convention 190 ratification in Indonesia.

There are many people who do not understand the real definition of gender-based violence. Therefore, many tolerate the gender-basd violence. Gender-based violence is violence that is aimed at specific gender. It is happen due the social/cultural/religious belief that is embedded to certain gender that result in violence or disproportionate treatment.

There are at least four important features to understand gender-based violence. They are (a) threat; (b) physical, verbal, social, and economic acts that are harmful and detrimental or there is a possibility of harm; (c) beyond one’s will; and (d) based on the social construction on “women” and “men”.

“Silence is not consent. We have to see whether there is a power relation invloved between the perpetrator and the victim. If the perpetrator holds a power over the victim, the victim tends to be silent,” she added.

The problem of power relation is also the root of gender-based violence. The socio-cultural  patriarchal belief that presume that women are in the position of non-importance, where the power rests on men (power relation), women are not decision makers, only complementing. Women’s role are in the domestic realm and reproduction only. Whe women enter the public sphere/employment, their income is secondary, as a compliment for their husbands’.

The adoption of the ILO Convention No. 190 and Recommendation No. 206 on Violence and Harassment in the world of work brings a new hope for us. We can say that the adoption of both instruments is a victory for the trade union and labour movement. The adoption of these instruments is the culmination of years of campaigning and lobbying by trade unions, and in particular women trade unionists, built on the narratives and experiences of discrimination and violence from women workers global. The convention is an instrument to recognizes the right of everyone to have the a working life free from  violence and harassment. For the first time ever internationally agreed the definition of violence and harassment in the world of wok, including the gender-based violence that is understood as “unwanted behavior and practices that is directed to, or result in, or possible to result in physical, psychological, sexual, or economic harm.” The definition covers everyone in this world, including person in training (interns and apprentices), and individuals exercising the authority, duties, or responsibilities of an employer, and includes public and private sector, informal and formal economies, and urban and rural areas.

As trade unions, we have an important role to play in ensuring this Convention and Recommendation do not just remain on paper but are transformed into action on local. Trade unions are leading local and global campaigns, calling for the ratification and effective implementation of C190 and R206, so that these standards are integrated into national legislation.

Berserikat. Cara Jitu Melawan Kekerasan dan Pelecehan di Tempat Kerja

“Salah satu kekuatan kita dalam melawan kekerasan dan pelecehan di tempat kerja adalah dengan bergabung dalam serikat pekerja. Dengan berserikat, kita bisa duduk dalam status yang sama dan memiliki kekuatan untuk mendorong Perusahaan agar menuangkan aturan terkait perlindungan perempuan di dalam PKB,” demikian disampaikan Izzah Inzamliyah dalam Pelatihan untuk Pelatih bagi Pemimpin dan Aktivis Perempuan dengan tema “Konvensi ILO 190 tentang Penghapusan Kekerasan dan Pelecehan di Dunia Kerja” yang diselenggarakan Public Service International (PSI) di 5G Resort Cijeruk, Bogor, 29-31 Agustus 2022.

Ketika perlindungan terhadap perempuan diatur dalam Perjanjian Kerja Bersama, lanjut Izzah, diharapkan akan meminimalisir kekerasan berbasis gender. Pada gilirannya, hal ini akan mengubah cara berfikir para pekerja dan pengusaha, bahwa semua orang memiliki hak atas dunia yang bebas dari kekerasan dan pelecehan.

Bicara tentang kekerasan dan pelecehan, perempuan adalah objek yang paling rentan terhadap kekerasan dalam hubungan kerja. Perempuan dianggap makhluk yang lemah, tidak bisa melawan, dan merasa tergantung terhadap atasan atau laki laki.

“Ketakutan dan kelemahan perempuan itulah yang menjadi penyebab seringnya terjadi kekerasan dalam hubungan kerja. Karenanya, tepat sekali jika buruh perempuan harus terlibat aktif di dalam serikat pekerja. Dengan berserikat, pekerja memiliki kekuatan untuk melawan kekerasan dan pelecehan di tempat kerja,” tegas Izzah di hadapan 21 orang pekerja perempuan yang merupakan peserta pelatihan yang berasal dari SP PLN, SP PPIP, SP PJB, SP EE, dan SP ICON.

Indah Budiarti selaku PSI Communications and Project Coordinator menambahkan, pelatihan ini juga mengenalkan bagaimana mengunakan ILO Toolkit Konvensi ILO 190. Toolkit ini telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh kantor IndustriAll proyek Indonesia sehingga memudahkan peserta dan nantinya serikat pekerja dalam merancang aktifitasnya sendiri.

“PSI secara global bersama serikat pekerja global unions lainnya mendorong pada ratifikasi konvensi ini,” tegas Indah.

Pihaknya berharap, melalui training yang diselenggarakan akan mendorong pada kampanye lokal dan nasional, melalui rencana aksi yang diskusikan bersama diharapkan para peserta bersama serikat pekerjanya mengambil langkah untuk mendukung kampanye ratifikasi Konvensi 190 di Indonesia.

Masih banyak yang belum memahami arti sesungguhnya dari kekerasan berbasis gender. Sehingga peristiwa ini seringkali ditolerir. Disampaikan, kekerasan berbasis gender adalah kekerasan yang ditujukan terhadap jenis kelamin tertentu. Terjadi karena adanya keyakinan sosial/budaya/agama yang dilekatkan terhadap jenis kelamin tertentu yang mengakibatkan kekerasan atau berakibat pada perlakuan yang tidak proporsional.

Setidaknya ada empat hal kunci terkait kekerasan berbasis gender. Meliputi: (a) adanya ancaman; (b) tindakan dalam bentuk fisik verbal, sosial, serta ekonomi membahayakan dan merugikan atau ada kemungkinan merugikan; (c) di luar kehendak seseorang; dan (d) berdasarkan konstruksi sosial tentang “perempuan” dan “laki- laki”.

“Diam tidak sama dengan setuju. Harus dilihat apakah ada relasi kuasa antara pelaku dan korban. Ketika yang melakukan memiliki kuasa, korban cenderung takut untuk bersuara,” ujarnya.

Persoalan relasi inilah yang juga menjadi akar masalah kekerasan berbasis gender. Keyakinan sosial/budaya patriartki yang menganggap perempuan berada di posisi tidak dianggap penting, kuasa ada pada laki-laki (relasi kuasa), bukan pengambil keputusan, pelengkap, khusus pada peran domestik dan seputar reproduksi saja, ketika masuk ke ruang publik/dunia kerja dianggap pencari nafkah tambahan, dsb.

Adopsi Konvensi Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) No. 190 dan Rekomendasi No. 206 tentang Kekerasan dan Pelecehan di Dunia Kerja membawa harapan baru bagi kita. Bisa dikatakan, lahirnya konvensi dan rekomendasi ini merupakan kemenangan bagi serikat pekerja dan gerakan buruh. Adopsi dari kedua instrumen ini merupakan titik kulminasi dari kampanye dan lobi selama bertahun-tahun yang dilakukan oleh serikat pekerja, dan khususnya para pemimpin serikat pekerja perempuan, yang dibangun di atas narasi dan pengalaman tentang diskriminasi dari perempuan di seluruh dunia.

Konvensi ini merupakan instrumen untuk mengafirmasi bahwa semua orang memiliki hak atas dunia kerja yang bebas dari kekerasan dan pelecehan. Konvensi ini juga memberikan definisi yang pertama kali disetujui secara internasional tentang kekerasan dan pelecehan di dunia kerja, termasuk kekerasan berbasis gender, yang dipahami sebagai “berbagai perilaku dan prakti yang tidak bisa diterima” yang “bertujuan untuk, berakibat pada, atau kemungkinan besar akan berakibat pada luka atau kerugian fisik, psikologis, seksual atau ekonomi”. Definisi ini melindungi semua orang di dunia kerja, termasuk pekerja magang, dan orang-orang yang menjalankan tugas atau wewenang sebagai pemberi kerja, dan mencakup sektor publik maupun swasta, ekonomi informal maupun formal, dan wilayah perkotaan maupun pedesaan.

Sebagai serikat pekerja, kita memiliki peran penting dalam memastikan bahwa Konvensi dan Rekomendasi ini tidak hanya berada di atas kertas tetapi mengubahnya menjadi tindakan. Di tingkat lokal maupun global, serikat pekerja mendorong ratifikasi dan implementasi efektif Konvensi dan Rekomendasi tersebut sehingga standar yang berada di dalamnya terintegrasi ke dalam perundang-undangan nasional.

#RatifikasiKonvensiILO190

The termination of cooperation between PAM Jaya and a Private Operators, SP PDAM demands the process to be fair for workers

SP PDAM Jakarta supports the transition due to termination of cooperation between PAM Jaya with a partner of private operators, PT PAM Lyonnaise Jaya (PALYJA) and PT Aetra Air Jakarta (AETRA). However, in the transition must guarantee that workers will retain their rightful rights, said the chairperson of SP PDAM Jakarta, Abdul Somad.

The termination of cooperation also marks the end of assignment of PAM Jaya workers in the the partner companies for twenty five years. Per February 1, 2023, all active workers will return to PAM Jaya.

During their early cooperation, 4,250 workers of PAM Jaya were assigned to work in the partner company. Up to August 2022, there are 480 active workers. Based on the available data, by February 2023, there are 260 active workers.

“SP PDAM Jakarta must focus on the rights and interest of the workers. We don’t want this process to harm the workers who have been working in the companies and serving the people for more than two decades,” said Abdul Somad.

In order to guarantee the process to not interrupt the service, SP PDAM Jakarta proposed an extension of retirement age. PAM Jaya refers to Regulation of Interior Minister (Permendagri) No. 2 of 2007, that is 56 years old. While the workers proposed to refer the President Regulation No. 45/2021, that is 58 years old.

“The extension of retirement age will benefit both sides. Workers will get benefit as they will have longer service term. While the company will be benefited from the workers’ skill. The senior workers can function as training during transition period so that the transition will not interrupt the service to the costumers,” explain Abdul Somad.

Other than retirement age, workers also demand the company to pay appreciation money to the returning PAM Jaya workers. This demand is reasonable as for decades the workers have contributed to the the growth of the companies, both private operators. Therefore, at the end of the cooperation, it is proper for workers to get appreciation money as a gratitude token.

Moreover, said Abdul Somad, there has been discrimination against the workers assigned in private operators. Workers who work in PAM Jaya headquarter received many benefits such as regional government benefit, however, workers who seconded at the two private operators did not receive any benefits.

“The fact is there is discrimination against workers who work in partner company. They are treated different from the ones who work at PAM,” asserted Abdul Somad. Whereas, the workers who were assigned to private operators must have had received the same benefit and have same rights as the ones who work at the headquarter. On the basis that discrimination occurred, the demand of appreciation money is due. It is just like the company giving  the supposed to be received by the workers.

In relation to the transition process, SP PDAM Jakarta demand that union must be involved in the transition team. After all, the process will have direct impact on workers. Therefore, the union must be involved.

As mandated by the law, the function of unions are to defend, protect, and fight for the workers’ rights. By being a part of the transition team, the union can ensure that the workers will get their rights.

“The union wants that the transition will not change workers’ employment status and rank. We even want that our rights to be equal to what PAM Jaya receive, including benefits. Whatever we didn’t receive for 25 years working in partner’s company must be returned to us,” asserted Abdul Somad.

The basis for the demand is that the workers worked at the partner company as an assignment from PAM Jaya. It is clear that there is time limitation, i.e. 25 years, the term of the concession. After the concession ends, the active workers will return to PAM Jaya. They will be under PAM Jaya regulation. Therefore, the rights of the workers must be retain as they were assigned.

Soon, SP PDAM Jakarta will organize a National Consolidation that will involve all union leaders and members representatives. The consolidation is done to consolidate perception and to show the solidity of members in monitoring the transition process.


Pengakhiran Kerjasama PAM Jaya dan Swasta, SP PDAM Minta Proses Ini Tak Rugikan Pekerja

SP PDAM mendukung transisi pengakhiran kerja sama antara PAM Jaya dengan mitra perusahaan swasta yakni PT PAM Lyonnaise Jaya (PALYJA) dan PT Aetra Air Jakarta (AETRA). Namun demikian, dalam proses transisi tersebut harus menjamin bahwa pekerja akan tetap mendapatkan haknya dan terlindungi, demikian yang disampaikan Ketua Umum SP PDAM Jakarta, Abdul Somad.

Pengakhiran kerja sama ini sekaligus menandai berakhirnya penugasan para pekerja PAM Jaya di perusahaan mitra swasta tersebut selama 25 tahun. Per 1 Februari 2023, seluruh pekerja yang belum pensiun akan kembali bekerja ke PAM Jaya.

Sebagai catatan, di awal Kerjasama, sebayak 4.250 orang karyawan PAM Jaya yang dialih tugaskan ke mitra swasta itu. Di bulan Agustus ini, tersisa sekitar 480-orang pekerja. Dan berdasarkan data yang ada, hingga 1 Februari 2023, karyawan yang belum pensiun berjumlah 260 orang.

“Serikat pekerja konsens terhadap hak dan kepentingan para pekerja. Jangan sampai proses ini merugikan para pekerja yang telah puluhan tahun mengabdi perusahaan dan masyarakat,” kata Abdul Somad.

Untuk memastikan agar proses transisi ini tidak mengganggu pelayanan masyarakat, SP PDAM mengajukan perpanjangan usia pensiun. Di mana, saat ini usia pensiun di PAM Jaya mengacu pada Permendagri No 2/2007, yaitu usia 56 tahun. Sedangkan pekerja, meminta usia pensiun disesuaikan dengan PP 45/2021, yaitu 58 tahun.

“Perpanjangan usia pensiun ini akan menguntungkan kedua belah pihak. Pekerja akan diuntungkan karena memiliki masa kerja yang lebih lama. Sedangkan pengusaha akan diuntungkan karena keterampilan pekerja yang sudah senior tersebut bisa difungsikan sebagai pekerja pendamping untuk memastikan masa transisi bisa berjalan lancar sehingga tidak mengganggu pelayanan terhadap pelanggan,” jelas Abdul Somad.

Selain perpanjangan usia pensiun, pihak pekerja juga meminta kepada perusahaan mitra untuk memberikan uang tali kasih atau apresiasi kepada pekerja PAM Jaya. Permintaan ini sangat beralasan, mengingat selama puluhan tahun para pekerja telah membantu membesarkan perusahaan. Karenanya, di akhir kerja sama ini, sangat wajar jika pekerja mendapatkan uang apresiasi sebagai tanda terima kasih.

Terlebih lagi, kata Abdul Somad, selama ini telah terjadi diskriminasi terhadap pekerja PAM Jaya yang bekerja di kantor pusat dengan yang ditugaskan di perusahaan mitra swasta tersebut. Di mana pekerja PAM Jaya yang bekerja di kantor pusat mendapatkan sejumlah tunjangan, seperti tunjangan daerah. Sementara pekerja yang dipekerjakan di perusahaan mitra swasta tidak mendapatkan tunjangan tersebut.

“Faktanya memang ada pembedaan antara pekerja yang berkerja di PAM pusat dengan yang bekerja di mitra,” tegas Abdul Somad. Padahal, seharusnya hak pekerja yang diperbantukan di perusahaan mitra haknya sama dengan bekerja di PAM pusat. Atas dasar adanya diskriminasi itu, pemberian uang apresiasi yang dimaksud sebagai semacam pengembalian dari selisih hak para pekerja yang selama ini tidak diberikan.

Terkait dengan proses transisi, SP PDAM Jakarta meminta agar serikat pekerja dilibatkan di dalam tim transisi. Karena bagaimana pun, proses ini akan berdampak terhadap pekerja. Oleh karena itu, serikat pekerja juga harus diajak bicara.

Sesuai mandat yang diberikan undang-undang kepada serikat pekerja, fungsi serikat pekerja adalah membela, melindungi, dan memperjuangkan hak serta kepentingan para pekerja. Dengan masuk ke dalam tim transisi, serikat bisa memastikan para pekerja tidak dirugikan.

“Serikat ketika terjadi transisi adalah tidak ada perubahan status kepegawaian dan kepangkatan. Bahkan hak-hak kita harus disesuaikan dengan PAM Jaya, termasuk tunjangan. Apa pun yang hilang selama 25 tahun itu dikembalikan,” tegas Abdul Somad.

Hal ini, karena, para pekerja yang bekerja di perusahaan mitra sifatnya adalah penugasan. Jelas di situ ada limitasi waktu, yaitu 25 tahun, sesuai dengan masa konsesi. Setelah kerjasama berakhir, pekerja yang tidak pensiun akan kembali ke PAM Jaya. Otomatis akan kembali ke aturan yang berlaku di PAM Jaya. Oleh karena itu, harusnya hak-hak pekerja tetap. Karena sifatnya hanya penugasan.

Dalam waktu dekat, SP PDAM Jakarta akan menyelenggarakan Konsolodasi Nasional yang melibatkan seluruh pengurus dan perwakilan anggota. Konsolidasi ini dilakukan untuk menyamakan persepsi dan memperlihatkan kekompakan anggota serikat pekerja yang solid dalam mengawal proses transisi.

Keberadaan Perusahaan Listrik Swasta Sebabkan Harga Listrik Mahal

Keberadaan IPP (perusahaan listrik swasta) justru membuat harga listrik semakin mahal. Sebagai perbandingan, biaya produksi PLN untuk PLTU adalah sebesar Rp 653 per kWh. Sedangkan biaya produksi IPP sebesar Rp 1.015 kWh. Data ini mengkonfirmasi, bahwa keberadaan pihak swasta justru merusak harga listrik. Membuat tarif semakin mahal, karena oritenstasi IPP adalah mencari keuntungan.

Kesimpulannya, kalau masyarakat ingin mendapatkan harga listrik yang murah, solusinya hanya satu. Ketenagalistrikan harus dikuasai oleh negara. Tidak ada lagi IPP yang justru menggerogoti keuangan PLN, akibat PLN berkewajiban membeli setidaknya 70% dari listrik yang mereka hasilkan. Demikian diungkap dalam PCM Meeting 2022: Review dan Planning Serikat Pekerja Sektor Ketenagalistrikan di Indonesia yang diselenggarakan di Bogor, 18-19 April 2022.

Dalam kegiatan yang diikuti 5 serikat pekerja di sektor ketenagalistrikan, SP PLN Persero, Persatuan Pegawai Indonesia Power (PPIP), SP PJB, SPEE-FSPMI, dan SERBUK Indonesia; bertujuan untuk melakukan review dan update situasi terkini di sektor ketenagalistrikan dan ketenagakerjaan di Indonesia. Termasuk langkah dan strategi aksi serikat pekerja dalam menghadapi isu-isu terkini sektor ketenagalistrikan dan ketenagakerjaan, serta memperkuat posisi dan jaringan serikat pekerja.

Ketika mengupdate situasi umum dan diskusi ketenagalistrikan di Indonesia, Ketua Umum SP PLN M. Muhammad Abrar Ali, Ketua Umum SP PLN Persero mengatakan, privatisasi PLN memang tidak terjadi. Tetapi yang terjadi adalah privatisasi di sektor ketenagalistrikan.

“Apa yang diinginkan di UU 20/2002, akhirnya bisa terealisasi dalam format lain dalam UU 30/2009. Dan meskipun hal itu sudah diuji dalam Mahkamah Konstitusi, tetapi dihidupkan kembali di dalam UU Cipta Kerja,” tegasnya. Di sini terlihat, ada keinginan yang kuat untuk menghilangkan penguasaan negara agar listrik bisa diambil alih oleh pihak swasta. Hal ini sekaligus membuktikan, jika ketenagalistrikan sangat strategis dan sangat menjanjikan.

Dalam hal ini, MK sudah menyatakan bahwa penguasaan oleh negara meliputi kebijakan, pengurusan, pengaturan, pengelolaan, dan pengawasan. Termasuk di dalamnya adalah digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran warga negara. Jika hanya dinikmati oleh segelintir orang, maka itu sama artinya listrik tidak dikuasai oleh negara.

Ketua Umum SP PJB Agus Wibawa menyampaikan, bergerak di sektor pembangkitan, seharusnya PJB memiliki bisnis yang gemuk. Tetapi tidak mendapatkan yang selayaknya. Bahkan yang terjadi, PJB disuruh menjalankan bisnis di luar pembangkitan, sedangkan mereka yang bukan dari pembangkitan, justru ramai-ramai masuk ke pembangkitan.

Akhirnya ada anggapan di beberapa pekerja, sebaiknya pindah ke IPP saja. Karena di sana kita akan digaji minimal 2 kali lipat. Itu juga yang kemudian menjadikan salah satu penyebab sulitnya mencari kader di dalam serikat pekerja. Mereka sudah berada di zona nyaman dan ada tawaran yang lebih nyaman,” kata Agus.

Dia berharap, serikat pekerja di PLN Group bisa menjadikan ini untuk mendorong terwujudnya ketahanan energi yang dikendalikan penuh oleh PLN. Karena saat ini lebih banyak IPP, sehingga kontrolnya menjadi tidak mudah.

Sekretaris Jenderal PP IP Andi Wijaya menegaskan, bicara tentang listrik, sejatinya berbicara tentang ketahanan energi dan kedaulatan. Kasus Nias, misalnya, mengkonfirmasi bagaimana negara tidak ada harganya di hadapan IPP ketika negara tidak menguasai listrik. Hal ini juga bisa kita lihat seperti yang terjadi dalam HET dalam minyak goreng. Sia-sia saja pengaturan HET, kalau barangnya tidak ada.

“Kemudian, bagaimana pentingnya listrik dalam strategi pertahanan negara? Melihat perang Rusia Vs Ukraina, yang disasar pertama adalah pembangkit listrik. Ketika tidak ada listrik, maka perekonomian akan lumpuh,” kanda Andy.

Sementara itu, Slamet Riyadi dari Sekretaris Umum SPEE-FSPMI dan Hepy Nur Widiamoko dari SERBUK Indonesia menyoroti Tenaga Ahli Daya (TAD) yang bekerja di sektor ketenagalistrikan.

Disampaikan, saat ini kesejahteraan mereka semakin berkurang. Upah mereka bukan hanya tidak naik. Dengan adanya Perdir 09, struktur upah mereka pun berubah. Belum lagi akibat berlakukan PP 36, yang menyebabkan secara riil tidak ada kenaikan upah.

Sementara itu, kebijakan PLN, sampai sekarang zero recruitment, termasuk untuk TAD. Banyak pekerja yang pensiun tidak bisa diganti baru. Dampaknya, pekerjaan bertambah banyak, karena pekerja harus mengerjakan pekerjaan buruh yang sudah pensiun. Belum lagi, jika ada pekerja yang kritis, senjata paling ampuh dari vendor agar TAD mengundurkan diri adalah mutasi ke daerah yang jauh.

“Dalam kondisi seperti ini, jangankan memikirkan soal privatisasi, memikirkan masalahnya sendiri saja sudah berat. Karena itu dibutuhkan kerja keras dari kita semua untuk memberikan pemahaman kepada TAD, bahwa permasalahan privatisasi adalah permasalahan mereka juga,” tegasnya.

Training Perjanjian Kerja Bersama bagi pemimpin serikat pekerja

Bertempat di Hotel Santika Bogor dari tanggal 29-31 Maret 2021, 29 orang peserta mewakili SP PLN Persero, SP PJB, PP Indonesia Power, Federasi Serbuk dan SPEE-FSPMI mengikuti kegiatan ini.

Trainining ini diselenggarakan untuk mempersiapkan serikat pekerja dan membantu mereka dalam mempromosikan pemahaman komprehensif tentang PKB. Dua narasumber dari Asosiasi Jurudidik Pekerja (AJP), bung Chandra Mahlan dan bung Sulistiyono membantu kantor proyek memfasilitasi kegiatan training ini.

Ada 5 tujuan yang ingin kita capai dalam training ini yaitu:

  • Meningkatkan pemahaman peserta tentang proses perundingan bersama dan dinamika meja perundingan dan mengidentifikasi strategi dan keterampilan untuk meningkatkan peluang mereka tidak hanya untuk sukses di meja perundingan, tetapi juga untuk hubungan manajemen tenaga kerja yang produktif jangka panjang.
  • Memahami hukum dan peraturan yang terkait dengan peningkatan kondisi kerja dan bagaimana mempertahankan kepentingan pekerja
  • Memahami sistematika PKB dan cara menulis serta menyiapkan isinya
  • Mendapatkan pengalaman negosiasi dan dinamika meja perundingan melalui permainan peran
  • Memahami sengketa PKB yang mungkin akan muncul

Bagi serikat pekerja, perjanjian kerja bersama (PKB) adalah bentuk kekuatan kolektif pekerja untuk melindungi kepentingan mereka dengan menyimbangkan kekuatan pekerja dengan pengusahanya. PKB menyediakan peluang dan cara bagi pekerja untuk membela, melindungi dan meningkatkan standar kehidupan mereka di tempat kerjanya. Dalam proses perundingan, secara implisit PKB membutuhkan pengakuan dari kedua belah pihak, tetapi seringkali, pengusaha mencegah serikat pekerja untuk menggunakan hak kolektif ini atau undang-undang dan peraturan memiliki kriteria untuk serikat pekerja dalam mewakili pekerja dalam melaksanakan hak berunding ini, terutama ketika terdapat banyak serikat pekerja dalam satu perusahaan.

PKB bisa menjadi indikator utama kesuksesan serikat pekerja di tempat kerjanya. Oleh karena, melalui pelatihan ini dan nantinya akan dilanjutkan di masing-masing serikat pekerja peserta, akan tumbuh PKB-PKB baru atau perbaikan nilai kualitas isi PKB mereka saat ini.

———————————–

Presentasi (Bisa digunakan dengan bebas untuk kepentingan pendidikan, tetapi kalau mau memperbanyak/menggunakan bahan presentasi ini, mohon ijin disampaikan kepada pembuat presentasi ini)

Tips fotografi bagi serikat buruh

Wakil SP PJB melakukan protest UU Cipta Kerja (Foto Indah Budiarti 2020)

Dokumentasi foto menjadi hal penting dalam setiap kegiatan serikat buruh, baik itu kegiatan yang bersifat konstitutional seperti kongres, konferensi dan pertemuan-pertemuan organisasi ataupun kegiatan pendidikan ataupun aksi organisasi seperti demo, rally, protes dan mogok. Foto menjadi “wakil dari kegiatan atau reportase” dari aktifitas organisasi kita. Atau dalam kontek foto jurnalisme, meletakkan foto sebagai sebuah berita itu sendiri, dimana foto memberikan gambaran yang akurat dari peristiwa aktual yang terjadi.

Foto juga membantu kita dalam melengkapi teks berita (dalam hal ini laporan) melalui ilustrasi gambar yang terekam dari kegiatan yang kita laksanakan. Bagi serikat buruh, ketika kita menyebarkan surat kabar, leaflet atapun brosur kampanye, foto yang baik yang digunakan dapat membantu kita dalam mengirimkan pesan yang kuat kepada para pekerja anggota kita.

Rally Hari Buruh 2015 (Foto Indah Budiarti)

Untuk mengambil foto tentunya kita harus punya kamera, dan sungguh beruntung, kamera sekarang bisa didapatkan dengan harga yang cukup terjangkau, disamping itu juga smartphone juga menyediakan fasilitas kamera dengan kekuatan resolusi yang bagus. Tetapi apakah hasil foto yang bagus ditentukan oleh kualitas kamera dan resolusinya? Jawabannya bisa ya dan tidak. Karena bagaimanapun juga, ketika kita berada pada peristiwa yang unik dan mengabadikan dalam foto, biarpun hanya memggunakan kualitas kamera dari handphone, akan bisa menjadi gambar yang baik ketika foto itu memberikan daya tarik berita. Tetapi bisa saja kita menggunakan kamera profesional DLSR (Digital Single-Lens Reflex) dan tidak tahu cara menggunakan serta tidak memiliki kemampuan untuk mengambil foto yang baik, maka akan juga percuma. Bagaimana juga kamera yang baik tentunya akan membantu kita dalam menghasilkan kualitas foto yang baik juga.

PP Indonesia Power membawa atribut serikatnya dalam acara pengajuan gugatan UU Cipta Kerja ke MK pada tanggal 7 Desember 2020 (Foto Indah Budiarti)

Lalu, tips atau saran seperti apa yang perlu diperhatikan ketika kita menjadi fotografer kegiatan serikat buruh kita:

  1. ambil foto sebanyak mungkin – kamera digital atau kamera smartphone memungkinkan kita untuk mengambil foto sebanyak mungkin tanpa takut kehabisan rol film (film roll), tetapi tentunya kita harus siap dengan memori kamera yang memungkinkan untuk menyimpan foto sebanyak mungkin. Mengambil foto sebanyak mungkin, memberikan ruang bagi kita untuk memilih (melakukan editing) mana foto baik dan tidak
  2. simbol atau atribut – tunjukan dengan bangga simbol atau atribut dari organisasi anda, misal bendera, spanduk, motret orang yang menggenakan T-shirt organisasi kita dan pesan yang disampaikan. Simbol ini juga termasuk lokasi dimana para anggota kita bekerja (tempat kerja) atau rumah serikat buruh, atau juga tempat dimana peristiwa kegiatan dilakukan
  3. hilangkan gangguan – sering kita mengambil foto tetapi tidak pas dengan berita yang ingin kita sampaikan, jadi pastikan bahwa subyek foto kita pas untuk peristiwa yang ingin kita laporkan
  4. Close-up – ambil foto dengan jarak dekat, sehingga foto yang dihasilkan benar – benar kuat dan juga menegaskan bahwa kita berada dalam kegiatan tersebut
  5. foto candid – dalam istilah fotografi, foto candid atau candid shot berarti bahwa subjek yang kita potret tidak dalam kondisi berpose atau ‘sadar’ kamera. Sehingga hasil foto terlihat lebih natural, spontan, dan tidak dibuat-buat.
  6. Ekpresi yang baik – subyek foto hendaknya (harus) sesuai dengan peristiwa dan menjelaskan dengan gamblang emosi dari peristiwa tersebut.
  7. Cahaya – lebih baik tidak menggunakan flash ketika melakukan pengambilan foto kegiatan outdoor, gunakan cahaya alami. Kalaupun didalam ruangan, ikuti saran No. 4, untuk mengambil foto sedekat mungkin
  8. Pemegang kontrol – andalah pemegang kontrol untuk mendapatkan hasil foto yang anda  rancangkan, oleh karenanya atur setiap posisi dari subyek foto kita biarpun dia adalah, misal, seorang menteri, ketika kita ingin mengambil foto dia bersama dengan para pengurus serikat buruh kita
  9. Keaneka-ragaman – sebagaimana saran No 1 untuk mengambil foto sebanyak mungkin, perlu juga diperhatikan untuk mengambil gambar semua subyek yang ada dari setiap kegiatan yang kita abadikan. Misal kegiatan unjuk rasa dan ada buruh yang membawa keluarga, jangan lupa untuk ambil momen mereka: anak atau isterinya yang terlibat dalam kegiatan tersebut.

Selamat mencoba dan semoga berguna

Energy unions towards 2021 strategic actions

Today, 8 December 2020, the energy unions are completing a strategic meeting and a follow-up to the campaign and action program against Law No. 11/2020 concerning Job Creation, particularly the Electricity Sub-cluster. There are many things we will work on. Both litigation and non-litigation. Submitting a judicial review to the Constitutional Court, campaigns, and further actions. We have worked on a Judicial Review to the Constitutional Court with Gekanas. We registered the files for Judicial Review to the Constitutional Court yesterday, December 7, 2020.However, there are still some other important actions that need to be taken. Mainly conducting socialization related to the impact of the Job Creation Law to workers and to the wider community. We also agree to expand alliances not only with trade unions, but also other organizations and communities to get their support in winning over workers’ interests and maintaining electricity as a public good and because, privatization of this sector must be resisted. If electricity is privatized to the community, when the state does not interfere anymore with the sectors that control the lives of many people; in the end the people will be disadvantaged, and unions must take actions!

#Power #Actions